Wisata Cirebon : Ziarah Makan Sunan Gunung Jati

By
hidroponikcirebon

CIREBON merupakan salah satu kota yang lekat dengan sejarah penyebaran agama Islam. Sosok yang berjasa dibalik penyebaran ini adalah Sunan Gunung Jati, salah satu dari sembilan wali atau Wali Songo.

Sunan Gunung Jati memiliki nama asli Syekh Syarif Hidayatullah. Ia lahir pada tahun 1448 dan wafat pada tahun 1568. Untuk mengenang jasanya dalam mengenalkan agama Islam, Sunan Gunung Jati dimakamkan di tanah Cirebon.

Seiring berjalannya waktu, makam Sunan Gunung Jati seringkali dijadikan tempat berziarah. Tujuannya adalah untuk mendoakan juga mengenang jasanya. Para peziarah tak hanya dari daerah Cirebon dan sekitarnya, tapi juga dari berbagai kota.

Ada waktu-waktu tertentu di mana makam ini padat oleh para peziarah. Sebut saja malam Jumat Kliwon, Maulid Nabi, Grebeg Syawal, Grebeg Rayagung, dan ritual pencucian benda-benda pusaka.

Akses

Tak sulit untuk menuju kompleks makam Sunan Gunung Jati ini. Kalau dari arah Cirebon, makam ini berada di sebelah kiri jalan, tepatnya di Gunung Sembung. Di dalam kompleks pemakaman ini tidak hanya ada makam Sunan Gunung Jati, tapi juga kerabat-kerabat sang wali. Sedangkan tempat yang disebut Gunung Jati adalah merupakan lokasi makam-makam kuno lainnya.

Ketika memasuki Jalan Alun-alun Astana Gunung Jati, di sisi jalanan akan dipadati oleh para pedagang yang menjajakan berbagai macam barang seperti tasbih, alat salat, minyak wangi, dan lainnya. Saat mulai memasuki halaman depan pintu masuk utama, akan ada banyak orang yang meminta sumbangan dengan membawa wadah. Mereka akan terus berdatangan dan meminta. Meskipun begitu, peziarah tidak diwajibkan untuk memberi, karena itu hanya bersifat seikhlasnya.

Untuk memasuki ruangan, peziarah diharuskan membuka sepatu demi kenyamanan. Tembok didominasi dengan warna putih, ditempeli dengan beberapa piring cantik dengan beberapa tiang penyangga berbahan kayu. Di pintu ini, terlihat banyak ornamen hasil campuran dari tiga budaya, yaitu Jawa, Tiongkok, dan Arab. Seperti diketahui, Sunan Gunung Jati memiliki seorang istri yang berdarah Tionghoa bernama Putri Ong Tien.

Tak dibuka untuk umum

Kotak sumbangan berjejer, hanya berjarak sekitar satu meter dari satu ke kotak lainnya. Kotak-kotak itu ditunggui oleh setiap orang yang seolah “memaksa” untuk meminta. Memang agak mengganggu bagi peziarah yang datang ke sana.

Di kiri dan kanan tangga terlihat banyak makam yang merupakan kerabat dari Sunan Gunung Jati. Semakin dekat dengan makam Wali, artinya semakin dekat pula kekerabatannya. Makam Sunan Gunung Jati terletak di tangga teratas, yaitu tingkat ke sembilan. Namun makam ini tidak dibuka untuk umum, tetapi hanya boleh dikunjungi oleh keluarga keraton dan keturunannya. Peziarah hanya bisa mendoakan dari depan pintu dan luar tembok untuk Sunan Gunung Jati.

Sebetulnya tidak ada biaya tiket masuk untuk bisa berziarah ke makam ini. Hanya saja peziarah harus waspada dengan berbagai sumbangan dari pihak-pihak yang ada di sana. Jika memang ingin bersedekah, siapkanlah beberapa uang recehan. (Elvin Rizki Prahadiyanti)***

 

sumber : Pikiran Rakyat

Datautama.NET.ID

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Datautama.NET.ID

You may also like

Hot News