Tak Punya Biaya, Pasutri Ini Tebus Mayat Bayi dengan BPKB Motor

By
hidroponikcirebon

CIREBON- Rumah Sakit Sumber Waras yang berada di Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon, tega menahan mayat bayi untuk dikuburkan akibat orangtua bayi tidak bisa membayar biaya rumah sakit.

 

Mayat bayi akhirnya bisa dibawa pulang setelah pihak keluarga menukarnya dengan BPKB sepeda motor milik keluarga korban.

 

Hal itu dialami pasangan Taufan Nugraha dan Muslika, warga Desa Gintung Ranjeng, Kecamatan Ciwaringin. Dari keterangan yang berhasil dihimpun fajarnews, Muslika akan melahirkan pada Senin (12/11) lalu. Namun oleh bidan desa setempat disarankan untuk dibawa ke puskesmas pembantu di Desa Gintung Tengah.

 

“Pada pukul 04.00 WIB istri sampai di Puskesmas Gintung Tengah, namun setelah menunggu lama sekitar pukul 08.00 WIB, kami disarankan untuk ke Puskesmas Poned Gempol. Di Poned Gempol juga menunggu hingga malam sekitar pukul 20.00 WIB,” kata Taufan di kediamannya, Rabu (21/11).

 

Namun Poned Gempol pun disarankan bidan untuk dibawa langsung ke Rumah Sakit Sumber Waras tanpa alasan jelas. “Istri saya sangat lemah, namun harus dipindah sana-sini. Dari Puskesmas Pembantu Gintung Tengah, dialihkan ke Puskesmas Poned Gempol, dan kemudian dialihkan lagi ke Rumah Sakit Sumber Waras, istri saya seperti bola pingpong dialih sana-sini,” paparnya.

 

Setelah sampai Rumah Sakit Sumber Waras, istrinya langsung masuk UGD sekitar 1 jam. Hingga pukul 21.00 WIB, istrinya dialihkan ke ruangan bersalin. Dan pada pukul 22.00 WIB istrinya melahirkan dengan normal, namun kondisi bayi tidak sehat.

 

“Menurut dokter bayi harus segera di ICU karena sangat lemah kondisinya, dan pada pukul 02.00 WIB (dini hari) mengalami kejang-kejang, hingga penanganan terus dilakukan dengan dibantu oksigen. Tapi sekitar pukul 17.30 WIB nyawa anak saya tidak bisa tertolong,” kata Taufan.

 

Taufan mengaku masih bersabar meski istrinya harus dipingpong dari puskesmas satu ke puskesmas lainnya. Bahkan bayi yang merupakan anak pertamanya harus meninggal dunia pada akhirnya.

 

“Sekitar pukul 20.00 WIB saya pulang dengan membawa mayat anak, namun pihak rumah sakit melarang karena semua administrasi harus dibayar lunas. Saya bingung karena hanya memiliki uang Rp 3 juta sedangkan biaya tagihan mencapai Rp 5 juta,” tuturnya.

 

Dengan alasan itu, mayat bayi pun tidak bisa dipulangkan. Resah dan gelisah terus menghantui Taufan hingga ia terpaksa meminjam BPKB motor milik mertuanya untuk dijaminkan ke rumah sakit.

 

“Setelah memberikan jaminan BPKB sepeda motor, baru mayat anak saya bisa dibawa pulang,” ujarnya.

 

Ironisnya, saat melakukan pendaftaran awal, dirinya menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS), namun semuanya tidak berfungsi dan tetap harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

 

Sumber Berita : Fajarnews.co.id

Datautama.NET.ID

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Datautama.NET.ID

You may also like

Hot News