Pesta Dadung, Simbol Saling Menghormati Semesta

By
hidroponikcirebon

KUNINGAN – Salah satu rangkaian perayaan upacara adat Seren Taun Masyarakat Adat Cigugur adalah digelarnya Pesta Dadung, kemarin. Yaitu pestanya para petani dan gembala atas berkah yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa yang telah menganugerahkan hasil tani dan ternak melimpah.

Dalam ritual yang digelar di pelataran Setu Hyang tersebut, para petani, gembala dan seluruh lapisan masyarakat diajak merenung atas karunia Tuhan yang telah menciptakan alam semesta yang dihuni berbagai jenis makhluk hidup. Dan dalam menjalani kehidupan ini, seluruh makhluk dituntut untuk saling berdampingan dan hormat-menghormati untuk tercapai kehidupan yang seimbang.

Salah satu kegiatan dalam Pesta Dadung adalah dilakukannya ritual pelepasan hama seperti burung, tikus, keong dan ulat. Dilanjutkan dengan penyerahan bibit tanaman dari Bupati Kuningan Acep Purnama, tokoh adat Cigugur Gumirat Barna Alam kepada para petani dan masyarakat.

Makna dari ritual itu, menurut salah satu tokoh adat Cigugur Dewi Kanti adalah mengajak kepada seluruh umat manusia untuk bijak dalam berkehidupan dan saling menghormati. Tidak hanya terhadap sesama manusia, namun juga terhadap hewan dan tumbuhan, sekalipun yang merugikan seperti hama tersebut.

“Sebenarnya keberadaan hama memang merugikan para petani. Namun dengan bersikap bijak, menghormati hama sebagai makhluk Tuhan yang juga mempunyai hak hidup, kita tidak perlu membasmi mereka yang justu malah akan membinasakan mereka. Cukup dengan memindahkan kehidupan mereka ke ekosistem yang seharusnya, maka akan terjadi keserasian dan keseimbangan alam semesta ini,” ungkap Dewi.

Terjadinya kerusakan alam yang terjadi sekarang, kata Dewi, bisa jadi disebabkan karena perilaku manusia yang tidak bisa menjaga keserasian alam dengan merusak dan membinasakan ekosistem satwa tertentu. Padahal keberadaan satwa tersebut memiliki peran yang sebenarnya sangat penting dalam menunjang terciptanya keseimbangan alam.

“Misalnya kita beramai-ramai membunuh ular sawah yang sebenarnya berperan dalam mengendalikan hama tikus. Akibatnya, hama tikus menjadi merajalela sehingga malah berdampak kerugian yang sangat besar bagi para petani,” kata Dewi.

Dengan dilakukannya ritual pelepasan hama kembali ke habitatnya, lanjut Dewi, mengartikan kita juga menghormati kehidupan mereka sekaligus meminta agar mereka tidak kembali dan mengganggu kehidupan manusia.

Dalam ritual Pesta Dadung juga dilakukan tari-tarian menggunakan tali dadung pengikat kerbau saat membajak sawah, yang diikatkan kepada para penari terdiri dari tokoh adat, petani dan anak gembala. Ritual ini, kata Dewi, mengartikan makna hidup agar menjaga tali silaturahmi di antara sesama dan berusaha jangan sampai terputus.

“Sekalipun kita hidup dalam keragaman suku, agama dan budaya, namun kesetiakawanan dan tali silaturahmi harus tetap terjaga jangan sampai terputus,” ungkap Dewi.

Dilanjutkan dengan menari bersama-sama yang diikuti seluruh lapisan masyarakat tanpa melihat pangkat dan golongan. Hal itu menunjukkan persatuan dan kesatuan tanpa membedakan mana rakyat jelata dan yang berpangkat.

Diakhiri dengan kegiatan pemukulan 1.000 kentongan oleh seluruh masyarakat sambil berjalan dari Situ Hyang hingga Paseban Tri Panca Tunggal, bermakna memberi semangat dan penggugah hati masyarakat untuk tetap mematuhi setiap perintah Tuhan dan jangan lengah untuk tetap waspada dalam menjalani hidup tanpa harus saling menyakiti di antara sesama makhluk ciptaan-Nya. (fik)

 

Sumber Berita : radarcirebon.com

Datautama.NET.ID

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Datautama.NET.ID

You may also like

Hot News